Cerpen dan Cerbung Idola Cilik

Cerita Fiksi tentang Idola Cilik

Akulah Serpihan Kisah Masa Lalumu (bagian 2)

pada 3 Juli 2011

*****

 

“Bagaimana ya caranya agar Nova mengetahui bahwa dahulu aku yang menolongnya saat gempa?” Lintar berujar sambil menatap Nova dari kejauhan setelah istirahat pertama selesai.

“Ciee… ngeliatin Nova terus nih! Pasti ada apa-apanya ya…” kata Rio jahil.

“Memang! Dia mengingatkanku pada masa laluku.” jawab Lintar datar.

“Wah, masa lalu nih ye!” Ozy juga ikutan menggoda Lintar.

“Ah, sudah! Nggak usah diomongin lagi.” Lintar berlalu meninggalkan Rio dan Ozy.

 

“Selanjutnya pelajaran Seni Musik! Ayo siapkan pertunjukan musik yang akan kalian bawakan. Semuanya sudah bawa alat musiknya, kan?” kata Zevana, sang sekretaris kelas yang sedang membaca jadwal pelajaran pada hari ini.

“Kalau tidak membawa alat musik, bagaimana?” Keke tunjuk tangan bertanya.

“Saat kalian menyanyi, minta diiringi saja oleh teman yang membawa alat musik.

 

Lima menit kemudian, guru Seni Musik pun datang. Pak Duta namanya.

“Assalamu’alaikum…” kata Pak Duta.

“Wa’alaikum salam…” jawab murid-murid kelas 8-4 serempak.

“Bapak sudah memberikan tugas pada minggu kemarin. Sekarang, ada yang mau maju ke untuk menampilkan pertunjukan musik.”

 

Dengan membawa gitar, Lintar maju untuk menampilkan pertunjukan musik.

“Teman-teman, saya akan menampilkan sebuah lagu untuk seseorang yang sekarang ini berada di sini, seseorang dari masa lalu saya, mungkin orang itu tidak pernah menyadarinya. Lagu yang akan saya bawakan adalah ‘Bernafas Tanpamu’.”

 

JRENG! Lintar mulai memainkan gitarnya sambil bernyanyi.

 

mungkin kau bertanya-tanya

arti perhatianku terhadapmu

pasti kau menerka-nerka

apa yang tersirat dalam gerakku

 

akulah serpihan kisah masa lalumu

yang sekedar ingin tahu keadaanmu

 

tak pernah aku bermaksud mengusikmu

menganggu setiap ketentraman hidupmu

hanya tak mudah bagiku lupakanmu

dan pergi menjauh

 

beri sedikit waktu

agar ku terbiasa

bernafas tanpamu

 

teruntuk dirimu

dengarkanlah

 

tak pernah aku bermaksud mengusikmu

menganggu setiap ketentraman hidupmu

hanya tak mudah bagiku lupakanmu

dan pergi menjauh

pergi menjauh

 

tak pernah aku bermaksud mengusikmu

menganggu setiap ketentraman hidupmu

hanya tak mudah bagiku lupakanmu

dan pergi menjauh

 

beri sedikit waktu

agar ku terbiasa

bernafas tanpamu

 

bernafas tanpamu

 

 

Terdengar suara teriakan dan tepuk tangan kagum dari satu kelas. “Terima kasih.” kata Lintar kemudian. Ia pun bergegas kembali ke tempat duduknya sambil membawa gitar miliknya.

 

Setelah Lintar tampil, Rio dan Alvin pun tampil. Selanjutnya, giliran Nova yang tampil, “Aku ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk orang di masa laluku, tetapi aku tidak tahu saiap namanya.” ucap Nova sebelum bernyanyi. Lalu Nova menyanyikan lagu “Masa Kecil”.

 

 Lihat umurku

Menjalani sisa hidupku

Semua berubah

Begitu cepat hampiriku

 

Semua berlalu

Kini ku tlah tumbuh dewasa

Apakah nanti

Ku bisa beri yang terbaik

 

Ku ingin diriku mengejar semua

cita-citaku untuk hidup

Ku ingin berikan semua yang terbaik

Untuk jalanku untuk harapan hidupku

 

Ku teringat akan masa kecilku dulu

Dengan sejuta harapan hidupku

Ku teringat akan masa kecilku dulu

Dengan sejuta harapan hidupku

Hidupku

 

Ku ingin diriku mengejar semua

cita-citaku untuk hidup

Ku ingin berikan semua yang terbaik

Untuk jalanku untuk harapan hidupku

 

Ku teringat akan masa kecilku dulu

Dengan sejuta harapan hidupku

Ku teringat akan masa kecilku dulu

Dengan sejuta harapan hidupku

 

Ku teringat akan masa kecilku dulu

Dengan sejuta harapan hidupku

Ku teringat akan masa kecilku dulu

Dengan sejuta harapan hidupku

 

Ku teringat akan masa kecilku dulu

Dengan sejuta harapan hidupku

Ku teringat akan masa kecilku dulu

Dengan sejuta harapan hidupku

 

Ku teringat akan masa kecilku dulu

Dengan sejuta harapan hidupku

 

 

“Ada apa dengan Lintar dan Nova? Mengapa mereka menyanyikan lagu tentang masa lalu mereka?” tanya teman-teman kelas 8-4 sambil berbisik.

Sementara itu, Rio dan Ozy yang mengetahui pertanyaan teman-teman mereka, hanya tersenyum nakal sambil melihat ke arah Lintar dan Nova.

 

————————————————————————————————————

 

Beberapa hari kemudian, Nova menunjukkan foto masa kecilnya kepada teman sekelasnya.

“Ini nih salah satu foto kenanganku di masa kecil. Inilah teman masa kecilku yang aku bilang ‘teman masa laluku’ sewaktu menyanyi di Seni Musik kemarin.” Nova mengambil sebuah foto, dan menunjuk ke arah anak laki-laki kecil yang di foto itu berada di sebelahnya.

“Anak laki-laki yang kamu maksud ini persis seperti Lintar, ya?” Zevana menambahkan.

 

Mendengar namanya disebut, Lintar langsung bangkit dan menghampiri teman-teman yang berkerumun di meja Nova .

“Ada apa nih? Kenapa namaku disebut-sebut?” tanya Lintar.

“Ini loh, kamu ada di foto Nova waktu kecil?” Olivia mengangkat foto itu tinggi-tinggi.

…. mencoba melihat fotonya dari jarak yang lebih dekat.

“Itu memang aku.” jawab Lintar jujur.

“Hah? Iya, ya. Sepertinya wajah anak laki-laki yang ada di foto waktu aku kecil itu mirip kamu, deh. Tunggu, kalau kamu memang anak yang mempertemukanku dengan orangtua dan saudaraku, berarti kamu punya kalung tanda ‘love’ yang aku kasih, kan? Ini punyaku.” Nova nyerocos sambil menunjukkan sebuah kalung.

“Aku juga punya kok kalungnya.” kata Lintar sambil mengeluarkan sebuah kalung dari kantongnya.

 

“Jadi…” kata Lintar dan Nova bersamaan, “Sebenarnya dari dulu kita sudah pernah bertemu. Sebenarnya kita adalah teman masa kecil, dan kamu adalah serpihan kisah masa laluku…”

 

“Ayo Lintar, jadi laki-laki harus berani! Jangan malu untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya kamu rasakan!” kata Rio dan Ozy dengan wajah jailnya.

 

“Apaaan sih Rio dan Ozy! Kita tuh cuma mengungkapkan janji kita dulu untuk bersahabat!” kata Lintar dan Nova bersamaan.

 

T H E   E N D


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: