Cerpen dan Cerbung Idola Cilik

Cerita Fiksi tentang Idola Cilik

Memories of Idola Cilik 3

pada 22 April 2010

Baca…

Aku tunggu kritik dan sarannya, tentunya kritik dan saran yang membangun…

Hari ini adalah hari yang menyenangkan dan menyedihkan bagi anggota eksul Pramuka. Mengapa hari ini adalah hari yang menyenangkan dan menyedihkan bagi mereka? Simak kisahnya berikut ini.

Lintar, Gandhi, Nandya, Iley, Rio, Gaby, Deva, dan Sabian adalah sekian dari murid-murid yang mengikuti ekskul Pramuka. Hari ini anggota eksul Pramuka berkemah di hutan. Semua anggota eksul Pramuka menyambutnya dengan senang. Beberapa hari sebelumnya telah dibagi beberapa kelompok untuk melewati semua rintangan yang ada. Lintar, Gandhi, Nandya, Iley, Rio, Gaby, Deva, dan Sabian digabung menjadi satu kelompok. Selain mereka, kelompok-kelompok lain juga sudah dibagi.

Lintar, Gandhi, dan Rio bertugas memasang tenda. Gaby, Deva, dan Sabian bertugas mencari kayu bakar. Sementara, Nandya dan Iley bertugas memasak untuk makan mereka. Semua melakukannya dengan baik. Begitu juga dengan kelompok lain, yang melakukan hal yang sama seperti mereka.

Setelah selesai makan, semua berkumpul kembali. Mereka akan melewati rintangan.

Lintar, Gandhi, Nandya, Iley, Rio, Gaby, Deva, dan Sabian mencari petunjuk. Tiba-tiba, Lintar melihat kertas di salah satu batang pohon yang tidak jauh dari mereka, “Itu petunjuknya!!!” seru Lintar sambil menunjuk salah satu batang pohon. Dengan sigap, Lintar langsung mencabut kertas yang ada di salah satu batang pohon. “Lintar, petunjuknya apa?” Gandhi, Nandya, Iley, Rio, Gaby, Deva, dan Sabian penasaran ingin mengetahui petunjuk yang ditemukan Lintar. Lintar pun membacakan petunjuk itu…

Teruslah berjalan lurus, kau akan menemukan sebuah tangga…
Naikilah tangga itu dan kau akan sampai di rumah pohon…
Setelah itu, kau harus melewati jembatan gantung yang ada…
Berhati-hatilah melewati jembatan gantung itu, kalau kau tidak berhati-hati melewatinya, kau akan terjatuh…
Setelah melewati jembatan gantung, kau akan menuju ke rumah pohon yang lain…
Kau lihat di bawah rumah pohon itu, ada sebuah sungai…
Petunjuk selanjutnya ada di sungai itu…
Tetapi, kau harus berhati-hati karena jalan dari rumah pohon itu menuju sungai tidak ada tangganya seperti saat kau akan melewati rumah pohon yang sebelumnya…
Jadi, kau harus meloncat dari rumah pohon itu ke dekat sungai…
Kau harus meloncat dengan hati-hati… JANGAN SAMPAI TERJATUH

“Hiiiyy… serem banget ya petunjuknya…” kata Sabian.
“Kaya’nya kita nggak usah melewati rintangan yang ini, deh! Soalnya rintangannya berat banget, harus mempertaruhkan nyawa kita!!!” sambung Iley.
“Iley, biarpun rintangannya mempertaruhkan nyawa kita, kita harus melewatinya. Kalau kita tidak melewatinya, bagaimana kita bisa menemukan petunjuk selanjutnya? Petunjuk selanjutnya kan baru ada setelah kita melewati rintangannya…” Gandhi menjelaskan.
“Iya sih… bener katamu… Tapi… aku takut…” kata Iley.
“Tenang… nggak usah takut… kan ada aku… eh salah… kan ada kita yang melindungimu… bener nggak teman-teman?” tanya Gandhi.
“Ehem… ehem…” yang lain mulai berdehem nggak jelas. Maksudnya mau ngeledekin Gandhi dan Iley…
“Iih… kalian ada-ada aja…” kata Iley.
“Sudahlah!!! Mendingan kita ikuti petunjuknya sekarang!!!” kata Gandhi.

Lintar, Gandhi, Nandya, Iley, Rio, Gaby, Deva, dan Sabian pun mulai berjalan mencari petunjuk yang dimaksud.

Setelah satu jam berjalan mencari petunjuk yang dimaksud, tiba-tiba Rio berseru, “Itu tangganya!!! Dan itu rumah pohonnya!!!” Rio menunjuk pohon yang dimaksudnya. Lintar, Gandhi, Nandya, Iley, Rio, Gaby, Deva, dan Sabian berlari menuju pohon itu.

Sampai di depan pohon itu, Lintar, Gandhi, Nandya, Iley, Rio, Gaby, Deva, dan Sabian menaiki tangga secara begantian. Sekarang, mereka sudah sampai di rumah pohon. Tetapi, di rumah pohon itu mereka berdesak-desakan. Terpaksa mereka keluar satu per satu untuk melewati jembatan gantung. Iley yang terakhir melewati jembatan gantung.

Saat melewati salah satu potongan kayu jembatan gantung itu, Iley tidak melihat kalau potongan kayu jembatan gantung itu akan rubuh karena tidak kuat menahan beban. Akhirnya, Iley terjatuh…

Nandya merasa ada satu orang yang kurang dari mereka. Benar saja, saat Nandya menengok ke belakang, Iley tidak ada!!! Nandya pun langsung menjerit dan terus berkata “Iley nggak ada!!!”

Lintar, Gandhi, Rio, Gaby, Deva, dan Sabian yang mendengarnya pun kaget. “Nandya, Iley beneran nggak ada?” tanya Lintar, Gandhi, Rio, Gaby, Deva, dan Sabian bersamaan. “Beneran… aku nggak bo’ong… tadi kan Iley ada di belakangku… Tapi… lihat… sekarang… Iley sama sekali tidak ada di belakangku…” jawab Nandya. “Nandya, bagaimana ceritanya Iley bisa nggak ada?” Gandhi bertanya. “Penjelasannya begini… waktu kita melewati jembatan ini, aku merasa ada satu orang yang kurang dari kita, ternyata benar… Saat aku melihat ke belakang, Iley udah nggak ada di belakangku…” Nandya menjelaskan. “Terus, sekarang Iley ada dimana?” tanya yang lain. “Aku nggak tau…” jawab Nandya.
Saat Gaby dan Deva melihat pemandangan hutan ke bawah, Gaby dan Deva melihat sesosok gadis perempuan yang sudah berlumuran darah di atas rumput-rumput yang ada di hutan. Gadis perempuan itu memakai baju biru dan celana training. Persis seperti pakaian yang dikenakan Iley tadi, pikir Gaby dan Deva. “Semuanya… lihatlah ke tempat kita ini…” kata Gaby dan Deva dengan nada sedih. Lintar, Gandi, Nandya, Rio, dan Sabian melihat ke tempat Gaby dan Deva berada. Saat mereka melihat ke bawah, mereka kaget, “I… Iley…” kata Lintar, Gandi, Nandya, Rio, dan Sabian. “Kita harus selamatkan Iley!!!” teriak Gandhi. “Gandhi… Iley sudah tidak bisa kita selamatkan lagi…” Rio berusaha menenangkan Gandhi. “Kamu ingin bertemu dengan Iley? Suatu saat kamu bisa bertemu lagi dengan Iley… Tentunya di alam surga sana…” Nandya menghibur Gandhi. “Iley akan selalu ada di hatimu…” hibur yang lain.

Di atas rumput-rumput yang ada di hutan, tepatnya di tempat Iley berada, Iley menggerakkan mulutnya, meminta bantuan kepada Lintar, Gandhi, Nandya, Rio, Gaby, Deva, dan Sabian. Tetapi, Lintar, Gandhi, Nandya, Rio, Gaby, Deva, dan Sabian tidak melihatnya. Dalam sekejap, Iley memejamkan matanya…

“Teman-teman semua, apakah kita membawa Iley terlebih dahulu ataukah kita langsung melanjutkan petunjuknya?” Lintar bertanya kepada Gandhi, Nandya, Rio, Gaby, Deva, dan Sabian.
“Kita semua ingin membawa Iley terlebih dahulu… Tapi… kita kan harus melanjutkan petunjuknya agar sampai lebih dulu dari kelompok lain…” jawab Gandhi, Nandya, Rio, Gaby, Deva, dan Sabian hampir bersamaan.
“Ya sudah… kita akan melanjutkan petunjuknya… Tapi… kita harus mengikhlaskan Iley berada di alam lain…” akhirnya Lintar memutuskan.

Lintar, Gandhi, Nandya, Rio, Gaby, Deva, dan Sabian melanjutkan petunjuk yang dimaksud. Gandhi berjalan paling belakang di antara yang lain. Airmata Gandhi jatuh tepat di tubuh Iley. Entah apa yang terjadi di sana…

Dan… akhirnya mereka sampai di rumah pohon selanjutnya. Kertas petunjuk yang mereka temukan benar, mereka melihat sungai dan jalan menuju sungai tidak ada tangga seperti saat mereka akan melewati rumah pohon sebelumnya. Terpaksa semuanya melompat menuju sungai. Lintar melompat paling pertama, karena ia ketua kelompok. Lintar pun selamat sampai di dekat sungai. Selanjutnya, Gandhi melompat karena ia yakin akan selamat sampai di dekat sungai. Ketiga, Rio mengikuti Lintar dan Gandhi melompat ke dekat sungai. Sebelum melompat ke dekat sungai, terlebih dahulu Rio memastikan apakah ia akan tercebur ke sungai atau tidak. Gaby dan Deva melompat secara bersamaan. Mereka pun selamat sampai di dekat sungai.

Sekarang, tinggal Nandya dan Sabian yang berada di rumah pohon. Nandya memutuskan untuk melompat karena melihat sudah banyak teman-temannya yang berada di bawah. Nandya pun selamat. Tinggal Sabian yang masih berada di rumah pohon. “Sabian.. cepatlah turun…” teriak Lintar, Gandhi, Nandya, Rio, Gaby, dan Deva. Sabian langsung melompat dari rumah pohon itu. Tetapi, Sabian tercebur ke dalam sungai.

Lintar, Gandhi, Nandya, Rio, Gaby, dan Deva berusaha menyelamatkan Sabian. Namun, apa daya. Arus sungai yang sangat deras membuat mereka sulit menyelamatkan Sabian. Lintar, Gandhi, Nandya, Rio, Gaby, dan Deva berlari mengikuti arus sungai yang membawa Sabian. Arus sungai yang membawa Sabian pun berhenti. Namun, Lintar, Gandhi, Nandya, Rio, Gaby, dan Deva melihat Sabian telah menyusul Iley ke alam surga. “Teman-teman, Sabian telah menyusul Iley ke alam surga…” kata Lintar sambil menghapus airmatanya. “Sabian, jagalah Iley di alam surga sana…”
—–

About these ads

11 responses to “Memories of Idola Cilik 3

  1. nadya aregh spendelz mengatakan:

    , kritik ya :
    – ceritanya sedikit gag masuk akal ,
    – tokohnya kurang menarik ,

    , saran :
    – kalo buat lagi, tokohnya yg menarik ya,, cntohnya:rio,gabriel,alvin,cakka,shilla,siva,ify,dll…
    – lebih di jelazin lagi ceritanya

    slaen itu mungkin udah baguz..
    trimz.. ^___^

  2. Ify lovers mengatakan:

    Waw keren bgt ,,,sedih gue bacanya huuu !!

  3. C-Luvers mengatakan:

    good jobbbbbbbbbbb

  4. Vandega Arfendo Setya mengatakan:

    wawwww bagus critanxa……

  5. elsa diandra mengatakan:

    I love this story . . .

    It touch my heart *cih lebayyy!!*

  6. mutia mengatakan:

    wew kerenzzz abizzzz cerita nya

  7. Nissa ( kak syak ) mengatakan:

    ngag ngerti dech…

  8. putri aliyah mengatakan:

    aku suka aku suka.. kereeeenn :)

  9. azzahra rizka mengatakan:

    Bagus menurut aku tpi kurang jelas ajah…
    tpi bagus ko :D

  10. KIKI mengatakan:

    KL KASIH PEMERAN YG BGS DONG …. KYK CAKKA, SHILLA, OZY, RAY, AGNI, RIO, OIK, DLL. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: