Cerpen dan Cerbung Idola Cilik

Cerita Fiksi tentang Idola Cilik

Cerita Ramadhan IC 2013 (bagian 2) : Mimpi Buruk

Malam hari di rumah Bagas…

 

Bagas tidak bisa tidur pulas. Karena malam ini ia mendapat sebuah mimpi buruk. Di dalam mimpinya, kala itu ia bersikap berani terhadap kakak kelas. Bagas serta Difa dan Gilang mencoba berani terhadap kakak kelas yang mereka takuti, yaitu Cakka, Obiet, dan Irsyad. Mereka bertiga mencoba berani melawan kakak kelas dengan cara mengajak untuk bertengkar. Tetapi, kebetulan saat itu Ketua Osis SMP Idola Cilik, yaitu Rahmi datang menghampiri mereka. Kak Rahmi mengingatkan mereka agar tidak bersikap berani terhadap kakak kelas. Tak tanggung-tanggung, Bagas, Difa, dan Gilang dibawa ke ruang BP untuk ditanya tentang sikap mereka selama ini. Dan kasus mereka selama ini diproses oleh guru BP.

“Ampun… aku nggak mau masuk BP. Aku janji tidak jadi anak nakal lagi…” teriak Bagas. Lalu ia terbangun.

 

***

 

Sama halnya seperti Bagas, Difa tidak bisa tertidur pulas karena mimpi buruk. Ceritanya, Difa ingin membuat beberapa temannya, yaitu Fattah dan Josia terjatuh dengan cara mendorongnya. Tetapi, entah mengapa tidak ada keberanian untuk itu. Padahal beberapa waktu yang lalu dengan berani ia mendorong Fattah dan Josia sampai jatuh, dan mereka tidak mengadu kepada guru. Seharusnya sejak itu Difa menjadi berani. Sekali lagi ia mencoba menggerakkan tangannya untuk membuat Fattah dan Josia terjatuh, tetapi tangannya tak bisa digerakkan kala itu. Namun, saat Difa meminta maaf kepada Fattah dan Josia, lalu mengaku kalau ia akan menjatuhkan mereka berdua, tangannya kembali bergerak.

“Mungkin ini pertanda kalau aku tidak boleh bersikap kasar terhadap teman…” gumam Difa. Dan seketika itu Difa terbangun dari mimpinya.

 

***

 

Mata Gilang tidak bisa terpejam. Ia mendapat mimpi buruk. Di dalam mimpinya, Gilang ingin marah kepada Gabriel, kakak kelasnya karena telah mengejek Gilang dan teman-temannya akibat kekalahan mereka dalam pertandingan futsal kemarin. Padahal maksud Gabriel tidaklah serius, hanya ingin menguji mental adik kelasnya. Karena kesal, Gilang mengajak bertanding kembali main basket 3 orang lawan 3 orang besok sepulang sekolah. Maka, Gabriel,  Sion, dan Goldi tertawa terbahak-bahak karena melihat wajah Gilang yang terlihat sangat marah. Akibatnya, Gilang malu sendiri dan keluar dari lapangan futsal.

 

***

 

Pada pagi harinya pukul 06.00 WIB, Bagas, Difa, dan Gilang sampai disekolah paling awal di kelas mereka karena kelasnya masih sepi.

“Difa… Gilang… nanti kalian ikut kan buka puasa di rumahku? Nanti siang, kita membeli kembang api di pasar. Biar lebih ramai.” Kata Bagas.

“Bakar jagung dan ayam tetap jadi, kan? Eh iya, semalam aku mimpi nih. Tapi kali ini mimpinya mimpi buruk.” Kata Difa dengan serius.

“Tetap jadi… mimpi apa?” Tanya Bagas.

 

“Di dalam mimpi ceritanya aku ingin mengisengi Fattah dan Josia dengan mendorong mereka, tetapi entah mengapa aku tidak berani melakukannya. Padahal sebelum itu aku sangat berani kepada

mereka. Saat aku mencoba menggerakkan tangan untuk mendorong badan mereka, tiba-tiba tanganku tak bisa digerakkan. Namun anehnya, ketika aku minta maaf kepada mereka tanganku kembali bergerak seperti biasa. Aku nggak berani deh iseng sama teman lagi.” Difa mengakui.

 

“Kalau aku, di dalam mimpi ceritanya aku kelas sama Kak Gabriel, Sion, dan Goldi karena mereka mengejek kita karena kalah dalam pertandingan futsal melawan mereka. Padahal mereka tidak serius mengejeknya. Setelah aku mengajak bertanding basket 3 lawan 3 esok hari, mereka tertawa terbahak-bahak. Aku jadi malu sendiri. Sekarang aku juga tidak berani sama kakak kelas.” Gilang pun bercerita.

“Di dalam mimpi Bagas, ceritanya aku, Difa, dan Gilang mengajak kak Cakka, kak Obiet, dan kak Irsyad untuk bertengkar. Padahal  takut sama mereka. Tapi, kebetulan kak Rahmi (Ketua OSIS) lewat di depan kita bertiga. Akhirnya kita bertiga dibawa ke ruang BP untuk diproses kasus ini. Aku berteriak tidak mau masuk ke ruang BP. Dan akhirnya aku terbangun. Ampun deh… nggak berani sama kakak kelas lagi.” Bagas bercerita.

 

“Berarti, sikap kita selama ini kurang baik sama kakak kelas ataupun teman. Di dalam diriku, aku ingin berubah jadi anak baik dan disegani semua murid seperti Kak Cakka, Kak Obiet, dan Kak Irsyad.” Ucap Difa.

 

“Kalau aku, aku ingin menjadi seperti Kak Dayat yang aku hormati. Karena kak Dayat itu baik terhadap semua murid di sekolah ini.” Kata Gilang.

 

“Bagas inginnya menjadi seperti kak Rahmi. Menjadi orang yang tegas dan tetap ramah kepada semua murid.”  Kata Bagas akhirnya.

 

Mereka pun merenung, sampai ada murid yang datang memasuki kelas.

 

***

 

Ting tong… bel pulang sekolah berbunyi. Di bulan ramadhan ini, bel berbunyi lebih cepat, yaitu jam 12 siang. Semua murid pulang ke rumah masing-masing. Kecuali Bagas, Difa, dan Gilang yang akan pergi ke pasar. Mereka bertiga pergi ke pasar dengan menaiki angkutan umum. Tidak lama kemudian, mereka sampai di pasar.

 

Di dalam pasar, Bagas, Difa, dan Gilang segera mencari penjual kembang api. Di dalam pasar, mereka langsung melihat penjual kembang api. Lalu mereka membeli kembang apinya. Setelah itu, mereka bertiga pulang ke rumah masing-masing dan Bagas membawa kembang apinya.

3 Komentar »

Cerita Ramadhan IC 2013 (bagian 1) : Setia Kawan

Ketiga junior ‘jagoan’ di SMP Idola Cilik, yaitu Bagas, Difa, dan Gilang. Walaupun mereka masih kelas 7, tetapi mereka berani terhadap teman-temannya dan juga kakak kelas mereka. Pengecualian, mereka hanya tidak berani kepada tiga sekawan senior yang tegas, yaitu Cakka, Obiet, dan Irsyad. Murid-murid merasa beruntung ketika tiga sekawan itu ada di dekat mereka apabila mereka diserang oleh ketiga junior yang ‘jagoan’. Mereka merasa aman.

 

Ketika memasuki bulan Ramadhan, suasananya agak lain. Bagas, Difa, dan Gilang menjaga sikap mereka yang selama ini ‘jagoan’ menjadi lebih setia kawan.

“Teman-teman, besok buka puasa di rumah gue ya. Ditunggu mulai jam 5 sore . Kita mulai berkumpul untuk kegiatan di bulan ini.” kata Bagas dengan lantangnya. Mereka semua mengangguk dan akan datang besok karena tidak ada yang berani dengan Bagas, Difa, ataupun Gilang.

“Kalau bisa, kalian bawa bahan makanan. Soalnya besok malam rencananya mau bakar jagung dan ayam di rumah Bagas. Nanti kita bertiga juga akan mengajak senior kita. Benar begitu kan Gilang?” lanjut Difa.

“Ya, betul sekali. Setelah itu yang muslim bisa shalat tarawih di masjid dekat rumahnya Bagas. Yang non muslim bisa pulang duluan. Tapi kalau pulang duluan rugi banget, karena nggak bisa ikut bakar-bakaran.” Ujar Gilang.

“Ya, untuk menjaga solidaritas teman sekelas, kita pasti datang.” Jawab Cindai dan Chelsea.

 

Saat istirahat sekolah, mereka berkeliling sekolah untuk mengisi waktu. Kebetulan, Cakka, Obiet, dan Irsyad berada tidak jauh dari mereka.

“Kak Cakka… Kak Obiet… Kak Irsyad…” seru Bagas, Difa, dan Gilang.

“Ada apa? Kalian tidak ingin mencari masalah lagi?” Tanya Obiet dengan nada curiga.

“Kami ingin mengajak kakak untuk buka puasa di rumahku, tapi besok. Besok kumpul mulai jam 5 sore.” Ucap Bagas.

“Benarkah kalian mengajak kami?” Tanya Irsyad.

“Ya benar sekali, kak. Jangan lupa datang ya kak. Kakak nggak usah bawa apa-apa. Tapi kalau mau bawa makanan juga boleh kak…” seru Difa.

“Ya sudah… kami akan datang. Tunggu ya, kakak catat dulu. Hmm… besok ya jam 5 sore.” Ungkap Cakka sambil membuka iPad nya.

“Sampai bertemu kak…” kata Gilang.

“Iya, kami pasti datang.” Ujar Irsyad, diikuti anggukan Cakka dan Obiet.

 

Bel istirahat telah selesai. Murid-murid yang berada di perpus ataupun di sekitar sekolah (yang jelas bukan kantin) kembali ke kelas mereka.

Murid kelas 7-1 duduk dengan tertib. Lalu, masuklah seorang guru Matematika yang dikenal serius tapi santai bernama Pak Adi.

“Anak-anak, walaupun kalian berpuasa, kalian tidak boleh lemas. Kalian harus bisa memahami materi pelajaran. Mengerti?” Tanya Pak Adi.

“Mengerti Pak…” jawab anak-anak serempak.

“Sekarang buka halaman 48, materi tentang bangun datar. Bapak akan jelaskan….”

[SKIP]

***

Rata-rata murid SMP Idola Cilik pulang ke sekolah dengan berjalan kaki. Begitu juga dengan Gilang, yang rumahnya tidak jauh dari sekolah. Hari ini ia pulang bersama dengan Kak Dayat, kakak senior yang cukup dihormatinya. Mereka mengobrol di sepanjang jalan menuju pulang.

“Dek, bagaima tadi materi pelajarannya?” Tanya Dayat.

“Alhamdulillah kak, aku bisa menyerap materinya.” Jawab Gilang.

“Besok kakak ada jam tambahan di sekolah, pulang sendiri aja ya.” Kata Dayat.

“Iya kak. Tapi kakak bisa nggak datang ke acara buka puasa di rumah Bagas? Besok kak acaranya, jam 5 sore.” Tanya GIlang.

“Insya Allah kakak bisa datang. Kan jam tambahannya hanya 2 jam pelajaran.” Ujar Dayat.

“Tolong ajak teman kakak yang lain juga. Karena lebih ramai jadi lebih seru.” Tambah Gilang.

“Untuk kalian apa yang tidak. Tapi ada syaratnya… kamu, Difa, dan Bagas nggak boleh berani lagi sama kakak kelas.” Ucap Dayat.

“Iya kak. Tapi kami butuh bantuan dari kakak, untuk merubah sifat kami yang agak keras  sama teman-teman.”

“Pasti kakak bantu…”

Tidak lama kemudian, mereka tiba di depan rumah. Kebetulan rumah mereka bersebelahan.

 

***

 

Di rumah Bagas …

“Nak, kira-kira apa saja makanan yang disiapkan untuk teman-temanmu?” Tanya papanya Bagas.

“Teh manis dan nasi pakai lauk. Papa, untuk nasinya kita pesan saja di restaurant siap saji. Karena malam harinya, kami juga membakar jagung dan ayam.” Usul Bagas.

“Baiklah kalau begitu. Nanti Papa pesan. Untuk teh manisnya, mamamu yang buatkan.”

 

***

Di rumah Difa…

 

Difa sedang bersantai sambil berpikir kira-kira siapa lagi senior yang akan diundang untuk buka puasa bersama di rumah Bagas. Karena Bagas yang memintanya untuk mengundang senior yang mereka kenal.

“Ah, SMS kak Sivia, Ify, Shila… terus Kak Rahmi, Kak Debo. Dan kirim ke semua nomor kakak kelas yang aku punya.” Ujar Difa sambil menyiapkan isi SMS nya.

 

Isi SMS nya:

Kakak, aku Difa dari kelas 7-1. Temanku, Bagas memintaku mengajak kakak-kakak semua untuk hadir di acara buka puasa bersama di rumahnya.  Waktunya besok, mulai berkumpul jam 5 sore untuk membicarakan tentang acara sekolah di bulan Ramadhan. Selain itu, ada acara bakar jagung dan ayam setelah shalat tarawih. Jangan lupa datang ya kak…

PS : Kalau berkenan, silahkan kakak membawa makanan ringan untuk berbuka puasa.

 

Tidak berapa lama, di HP Difa sudah ada pesan masuk dari seniornya: Sivia A., Alyssa Saufika (Ify), Rahmi A., Rizky Patrick E. (Kiki), Angelica M.P., Andryos Aryanto (Debo), dan Patton Otlivio L.

 

From Sivia

Insya Allah kakak datang…

 

From Ify

Kak Ify pasti datang ke acara buka puasa besok…

 

From Rahmi

Insya Allah kak Rahmi datang setelah mengajar anak-anak SMP di madrasah. Mohon maaf jika besok datangnya telat.

From Kiki

Kalau kak Kiki tidak ada acara apapun besok. Kak Kiki pasti datang ke acaranya, karena kak Kiki ingin menikmati acaranya dengan penuh rasa persaudaraan.

 

From Angel

 Karena kak Angel senang untuk ikut acara seperti ini, kak Angel pasti datang.    

 

***

Apakah semua teman-teman Bagas dan kakak kelasnya (seniornya) ikut acara buka puasa bersama di rumahnya? Tunggu kelanjutan kisahnya.

3 Komentar »

Pemberitahuan

Buat yang mau ceritanya diposting di sini dan dibaca banyak orang, silahkan lampirkan attachment Ms.Word (doc. atau docx.) email dengan judul Cerpen Cerbung Idola Cilik. Dimohon mengirimkan cerita dengan EYD yang benar. Bahasa penulisannya boleh baku, boleh tidak baku.

Jangan lupa tulis judul cerita dan nama kalian di badan email. Formarnya:

Judul cerita: … (contoh: Misteri Negeri Rubiks)

Penulis: … (contoh: Fani Chairani)

Kirim ke: idolacilikcerpencerbung@gmail.com

Semua cerita yang dikirim akan ditampilkan disini.

Tinggalkan komentar »

Idola Cilik School (Bagian 1): Semester Kedua di Idola Cilik School

Mengawali pagi hari yang panas, murid-murid Idola Cilik School tampak bersemangat. Tentunya diawali dengan bercerita pengalaman mereka selama liburan.

                (Di kelas Idola Cilik 1)

“Hai Ify, liburanmu kemana aja nih?” Sivia memulai pertanyaan.

“Hanya jalan-jalan ke mall dan berkunjung ke rumah saudara.” jawab Ify.

“Abdi teh kuriling ka Bandung (Saya keliling ke Bandung). Distro, Gunung Tangkubanperahu, Kawah Putih, sareng sejena (dan lainnya).” Irva membagi cerita.

“Kalau gue sih sama kaya Ify, jalan-jalan ke mall. Dan juga mencoba menciptakan lagu baru sendiri.” aku Shilla.

  (Di kelas Idola Cilik 2)

“Bro, kemana aja lo selama liburan?” tanya Obiet.

“Yang pasti latihan main musik sama Mas Elang dan jalan-jalan.” Cakka menjawab dengan cuek.

“Irsyad liburannya ngapain aja? Kalau Gita sih belajar memainkan sebuah alat musik, karena setelah lulus dari ICS, Gita mau melanjutkan ke sekolah musik.” Gita bercerita.

“Hanya berkunjung ke rumah sanak saudara dan menikmati keindahan kota Bukittinggi. Nggak jauh-jauh sih.” Irsyad mengakui.

(Di kelas Idola Cilik 3)

Keke memeluk Nova, “Aku kangen sama Nova. Liburan kemana aja, Nova? Kalau aku sih hanya di rumah, SMS-an sama semua teman dan mengerjakan tugas liburan.”

“Dos songon hamu, holan di sopo (Sama seperti kamu, hanya di rumah). Tapi sesekali aku diundang menyanyi di acara pesta.” Ujar Nova.

“Torang lama tak bakudapa (kita lama tidak bertemu). Ngana pimana, Lintar? (kamu pergi kemana, Lintar?) Kita hanya di wale (saya hanya di rumah).” tanya Rio dengan bahasa yang kurang dimengerti oleh Lintar.”

“Apo kaba? (Apa Kabar?)  Ambo ndak pai kama (saya tidak pergi kemana-mana).” Lintar menjawabnya walaupun kurang mengerti bahasa yang digunakan oleh Rio.

Terdengar kabar di semua kelas, baik Kelas Idola Cilik 1, Kelas Idola Cilik 2, ataupun di kelas Idola Cilik 3, semester depan akan ada murid baru yang akan dimasukkan ke kelas Idola Cilik 4.

(Di kelas Idola Cilik 1)
“Ada yang pintar nggak ya?” Gabriel bertanya-tanya.

(Di kelas Idola Cilik 2)
“Murid baru nanti ada nggak ya yang bisa dajak memanjat pagar sekolah?” ujar Agni di kelas Idola Cilik 2.

(Di kelas Idola Cilik 3)
“Ada yang perhatian seperti aku nggak ya?” ucap Ozy dengan narsisnya.

 

Catatan: Maaf nih, Karena bahasa daerahnya kurang bagus. Karena saya nyari bahasa daerahnya dari internet. Dan sekali lagi maaf, karena di kelas Idola Cilik 2 nggak ada bahasa daerahnya.)

4 Komentar »

CerBung: Misteri Negeri Rubiks (bagian 6)

Akhir yang bahagia, negeri rubiks telah kembali seperti semula berkat gabungan kekuatan sihir anak-anak negeri rubiks dibantu dengan kekuatan sihir anak-anak yang datang dari dunia manusia biasa dan dibantu juga dengan penyihir Patton yang tiba-tiba saja datang dan membantu mereka melawan penyihir Cakka dan teman-temannya.

Di rumahnya, Dea memberikan permen rubiks yang dibuatnya kepada Lintar, Rio, Ozy, Nova,Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia. Nyopon, Rizky, Deva, Ray, dan Daud memberikan rubiks buatan mereka bersama sebagai kenang-kenangan ketika Lintar dan teman-temannya kembali ke dunia manusia biasa.

Lintar, Rio, Ozy, Nova,Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia kembali ke dunia manusia biasa dengan tongkat sihir. Mereka mengayunkan tongkat di sekitar mereka. Namun, ketika teman-temannya telah kembali, Lintar masih berada di negeri rubiks, dan sekarang Lintar berada di samping penyihir Patton.

“Maaf ya karena telah membuatmu pulang belakangan. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu.” kata penyihir Patton.

Lintar hanya diam.

“Terimalah kristal ini. Mungkin tak seberapa dengan perjuanganmu selama berada di sini. Namun, aku terus ingin melihatmu menjadi anak yang baik, bukan menjadi orang yang jahat seperti sahabatku Cakka dan teman-temannya itu. Setiap hari aku akan melihat kondisimu dari negeri tempat tinggalku. Gunakanlah kristal ini untuk melakukan kebaikan.” penyihir Patton menyerahkan sebuah kristal berwarna putih ke tangan Lintar.

“Terima kasih. Aku pasti akan selalu menggunakan kristal pemberianmu ini untuk berbuat kebaikan. Dan aku berjanji menjadi anak yang baik.” Lintar memandang kristal putih yang diterimanya.

Penyihir Patton tiba-tiba menghilang.

“Mungkin penyihir baik itu pulang ke negerinya.” Lintar berpikir.

Lintar juga pulang ke negerinya, namun saat ini Lintar ditemani oleh kristal putih pemberian penyihir Patton.

Ketika Lintar sampai di negeri manusia biasa, Lintar berada di tempat sebelum tiba-tiba berpetualang ke negeri rubiks, ya – di rumahRiotempatnya. Lintar juga berada di posisi ketika sedang bermain dengan rubiks.

Saat bermain rubiks, Lintar teringat dengan kristal putih pemberian penyihir Patton. Lintar mencari kristal putih itu. Dan Lintar menemukan kristal putih miliknya tepat berada di sampingnya. Rio, Ozy, Nova,Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia kagum melihat kristal putih yang dipegang Lintar.

“Tar, kamu dapat darimana kristal putih itu?”Riobertanya.

“Dari penyihir yang menolong kita. Waktu kalian telah pulang ke dunia ini, ternyata aku ditahan sebentar ke negeri rubiks oleh penyihir itu. Ternyata, penyihir itu memberikanku kristal putih ini kepadaku dan berpesan aku harus menggunakan kristal putih ini untuk berbuat kebaikan.” Lintar menjelaskan semuanya.

“Wah, penyihir yang menolong kita itu baik, ya! Kira-kira, sekarang penyihir itu berada di mana-mana, ya?” ujar Nova.

Selain Lintar, tidak ada yang bisa melihat jika penyihir Paton tersenyum ke arah semuanya.

“Kita makan permen rubiks yang diberikan anak-anak dari negeri rubiks, yuk!” kataAlvinyang telah siap dengan permen rubiks di tangannya. 

“Makan aja sendiri! Aku mau menyimpan semua benda kenangan yang kita terima…” kata Lintar.

“Aku ikut Lintar, ah!” seruRiodan Ozy.

“Kita juga!” kata Nova, Keke, Zevana, dan Olivia.

“Okelah kalo begitu. Aku nggak jadi makan permen rubiksnya.”Alvinterlihat pasrah.

“Lintar, hati-hati ya! Kalau permen rubiksnya disimpan, jangan diputerin lagi seperti rubiks sungguhan, ya!”Riomenjulurkan lidahnya sambil tertawa.

“Kankita juga dikasih rubiks sama anak-anak itu! Ngapain harus muterin permen rubiks lagi, hah?” Lintar mengejarRioyang sudah berlari duluan.

“Teman-teman, kita main rubiks yang diberikan anak-anak negeri rubiks, yuk!” ajak Olivia.

“Yuk!” yang lainnya menyetujui.

Saat Lintar, Rio, Ozy, Nova,Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia bermain rubiks, tangan mereka seperti terus memutar rubiks itu dan rubiks yang dimainkan cepat tersusun seperti semula.

“Aku pengen baget ketemu anak-anak dari negeri rubiks lagi…” kata Zevana setelah selesai bermain rubiks.

“Iya… kemana ya mereka sekarang?” Lintar, Rio, Ozy, Nova,Alvin, Keke, dan Olivia bertanya dalam hati.

Tanpa mereka ketahui, sebenarnya di negeri rubiks, anak-anak negeri rubiks juga merindukan mereka.

“Aku pengen banget ketemu anak-anak dari dunia manusia biasa lagi.” Rizky menatap langit yang biru.

“Apakah mereka baik-baik saja di dunia mereka?” yang lainnya juga bertanya.

“Ya, semoga saja keadaan anak-anak dari dunia manusia biasa seperti yang kita harapkan tadi.” Rizky bergumam.

          Anak-anak dari negeri manusia biasa dan anak-anak dari negeri rubiks memang saling merindukan, namun akirnya mereka saling mengunjungi ke negeri manusia biasa dan negeri rubiks secara bergantian. Dan mereka menjadi sahabat yang sejati dalam segala perbedaan yang ada.

 

THE END

Tinggalkan komentar »

CerBung: Misteri Negeri Rubiks (bagian 5)

Ketika Rio, Ozy, Nova, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia datang bersama anak-anak dari negeri rubiks, yaitu Nyopon, Rizky, Dea, Deva, Ray, dan Daud, Cakka mengeluarkan pedangnya namun tak berhasil membuat siapapun terjatuh. Agni membantunya, dan berhasil membuat Zevana,Alvin, dan Nyopon terjatuh. Saat berusaha melawan penyihir jahat, ternyata mereka sendiri yang menjadi korbannya. Sebagian tangannya terluka bahkan ada yang kakinya terluka akibat diserang oleh pedang. Yang hanya sedikit terluka berusaha menggabungkan kekuatan mereka untuk mengubah susunan rubiks yang diacak. Dengan tubuh yang penuh luka dah kekuatan sihir yang tinggal sedikit, Lintar juga ikut menggabungkan kekuatan untuk mengubah susunan rubiks di negeri rubiks.

“Dead!” penyihir Cakka dan teman-temannya mengeluarkan semua kemampuan.

Sementara itu, Lintar, Rio, Ozy, Nova, Alvin, Keke, Olivia, Rizky, Dea, Deva, Ray, dan Daud juga mengeluarkan semua kekuatan sihir yang mereka miliki.

Awalnya memang banyak pihak dari Lintar dan teman-temannya yang terjatuh. Namun, keadaan menjadi terbalik ketika seorang penyihir yang memakai pakaian warna putih menolong Lintar dan teman-temannya. Dia adalah penyhir Patton, penyihir yang baru saja pulang dari negeri yang jauh dan tidak terlihat.

“Ca… Cakka? Agni? Obiet? Irsyad? Debo? Teman-teman yang lain? Semua berkumpul di sini?” Patton melihat sahabat lamanya.

“Patton ternyata menghkianati persahabatan!” Cakka mendorong Patton sampai terjatuh.

“Iya. Tidak mau membantu sahabatnya sendiri, malah membantu musuh sahabat sendiri.” sambung Obiet, Irsyad, Debo, Gabriel, Agni, Sivia, Oik, Shilla, dan Ify.

“Cak… Biet… Syad… semuanya… dengerin penjelasanku dulu!” Patton memohon.

“Ya sudah. Kita dengarkan dulu penjelasan dari dia.” kata Obiet.

“Kenapa sih setelah sepuluh tahun ditinggal aku pergi, semuanya telah berubah? Kalian yang dulu baik walaupun jahil sedikit, sekarang kalian semua menjadi jahat seperti ini?” Patton bertanya kepada sahabat-sahabat lamanya.

“Karena Patton udah ninggalin kita semua terlalu lama, sih!” jawab Sivia

“Setelah kamu meninggalkan kita semua, keadaan menjadi berubah. Aku dan Agni tiba-tiba bisa membuat tubuh orang lemah, Obiet dan Irsyad mengeluarkan cahaya petir dari tubuh, Debo dan Gabriel tiba-tiba bisa mengalahkan musuh dengan pedangnya, sementara yang lainnnya membantu Debo dan Gabriel.” Cakka menjelaskan semuanya.

“Tapi, setelah aku datang sekarang, apakah kalian sudah berubah menjadi anak yang baik lagi?” Patton bertanya lagi.

“Tidak. Kekuatan yang ada dalam diri kita ini bertahan untuk selamanya.” Irsyad mengeluarkan cahaya petir yang ada pada tubuhnya.

“Aku yakin. Kamulah yang menghancurkan negeri mereka ini, Cak! Aku sudah tahu semuanya sejak aku menemukan bola kristal ini.” Patton mengarahkan bola kristalnya ke arah Cakka.

Di dalam bola kristal milik Patton, Cakka melihat dirinya menghancurkan negeri rubiks. Ia terbang ke negeri rubiks, lalu berdiri di depan rubiks yang sudah dibuat oleh penduduk negeri rubiks. Cakka mengacak rubiks besar itu dengan kekuatan sihir yang dimilikinya. Seketika, negeri rubiks terlihat hancur. Bangunan terlihat hancur, dan di bawah reruntuhan bangunan itu terdapat tubuh manusia yang terus menjerit minta tolong. Pohon juga mulai tumbang. Namun, masih ada beberapa pohon yang tetap berdiri. Seketika itu juga, langit tiba-tiba gelap.

Setelah bertemu kembali dengan semua teman lamanya, Patton tidak menyangka semua teman lamanya itu berubah menjadi penyihir jahat. Kekuatan persahabatan yang dimiliki Patton saat bertemu dengan Cakka, Obiet, Irsyad, Debo, Gabriel, Agni, dan yang lainnya kini berubah menjadi kekuatan dendam. Kekuatan dendam yang dimilikinya itu lebih kuat daripada kekuatan persahabatan yang sebelumnya ia miliki.

Penyihir Patton membuka jaketnya di dekat penyihir Cakka dan teman-temannya. Setelah itu, penyihir Cakka dan teman-temannya terlihat tak berdaya, lalu pulang ke negeri mereka lagi.

3 Komentar »

CerBung: Misteri Negeri Rubiks (bagian 4)

“Kita pasti bisa kok mengembalikan keadaan negeri rubiks…” kata Rio meyakinkan Lintar.

“Kantadi kita sudah diberikan permen rubiks. Dan sekarang kita mempunyai kekuatan sihir. Nah, kekuatan sihir itu harus kita gabungkan agar negeri rubiks bisa kembali. Lihatlah! Bangunan di negeri rubiks ini mulai rapuh.” Nova menunjuk ke arah semua bangunan di negeri rubiks.

“Ayo kita gabungkan semua kekuatan sihir yang kita miliki!” seru Lintar, Rio, Ozy, Nova, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia kompak.

Lintar, Rio, Ozy, Nova, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia menggabungkan semua kekuatan sihir yang mereka dapatkan dari permen rubiks yang dimakan. Dan mereka bersama-sama mengayunkan tongkat sihir ke arah rubiks besar agar susunan rubiks di negeri rubiks bisa kembali.

Namun, di balik semak-semak, penyihir Cakka dan teman-temannya mengintip Lintar, Rio, Ozy, Nova, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia yang berusaha mengembalikan susunan rubiks. Penyihir Cakka dan teman-temannya yang bernama Obiet, Irsyad, Gabriel, Debo, Agni, Oik, Sivia, Shilla, dan Ify mengeluarkan semua kekuatan. Cakka dan Agni bisa membuat kekuatan lawan menjadi lemah. Obiet dan Irsyad membuat cahaya petir dari tubuh mereka. Gabriel dan Debo yang pintar bertarung melawan musuh menyerang lawan dengan pedang yang mereka miliki. Oik, Sivia, Shilla, dan Ify membantu Debo dan Gabriel menyerang lawan.

Sesaat kemudian, semua keadaan berubah. Langit tiba-tiba menjadi gelap. Kilat menyambar sampai menyilaukan mata. Kekuatan Lintar, Rio, Ozy, Nova, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia mulai melemah. Mereka terus diserang oleh penyihir Cakka dan teman-temannya.

“A… aaaa!” Olivia berteriak setelah dadanya ditusuk sebuah pisau oleh Agni.

Ozy yang pertama kali melihat itu memeluk Olivia erat. Lintar yang mempunyai kekuatan menyembuhkan penyakit segera menolong Olivia dengan sihirnya. Sesaat setelah Lintar menolong Olivia, keadaan Olivia mulai membaik. Namun, kondisi tubuh Lintar semakin memburuk. Untuk berdiri saja Lintar tidak mampu melakukannya. Kondisi Lintar yang lemah dimanfaatkan oleh penyihir Cakka, Agni, Obiet, Irsyad, Debo, Gabriel, Sivia, Oik, Shilla, dan Ify untuk membunuh Lintar.

“Hahaha… kurang dari sebelas bulan lagi negeri rubiks ini akan hancur! Dan teman kalian ini pun akan hancur saat ini juga!” penyihir Cakka tertawa puas.

“Teman-teman, satukan sisa kekuatan sihir kita!” Rio berteriak.

“Hiks… Kondisi Lintar lemah pasti karena tadi Lintar menolongku…” mata Olivia terlihat berkaca-kaca.

“Sudahlah, Oliv! Kondisi Lintar pasti bisa seperti biasa lagi, asalkan kita menggabungkan semua kekuatan sihir yang kita punya…” Nova, Zevana, dan Keke berusaha menenangkan Olivia.

“Ini pasti gara-gara aku! Karena saat aku melihat Oliv ditusuk pedang, aku hanya memeluknya, tak bisa melakukan apa-apa… Lintar-lah yang telah menyelamatkan Oliv…” Ozy juga terlihat sedih.

“Zy… jangan menyalahkan diri sendiri.” Alvin mengingatkan.

“Sudahlah, kawan! Jangan menyalahkan diri sendiri! Ayo satukan sisa kekuatan yang kita punya!” kata Rio bersemangat.

Rio, Ozy, Nova, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia bersatu menggabungkan semua kekuatan yang dimiliki.

“Teman-teman! Biar aku saja yang berusaha melawan penyihir jahat itu! Kalian istirahat saja untuk mengembalikan tenaga!” perintah Nova.

“Jangan, Nov! Kamu pasti tidak bisa melawan mereka sendirian!” ujar Rio, Ozy, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia bersama-sama.

Nova berteriak sekencang-kencangnya, “Aku akan berusaha melawan semua penyihir itu! Karena aku…” namun Nova tidak mampu melanjutkan kalimatnya.

“Karena apa?” Rio, Ozy, dan Alvin bertanya.

“Ah… nggak perlu ditanya! Yang penting, aku bisa menolongnya! Aku ingin…” Nova berlari menghampiri Lintar dan semua penyihir yang tadi menyerangnya dan juga teman-temannya.

“Lintar, aku bermaksud menolongmu karena aku ingin berada di dalam sejarah hidupmu, sejarah yang selalu ada dalam pikiranmu… Aku… aku sangat menyayangimu lebih dari sekedar sahabat….” Nova berkata dalam hati.

“Satu lawan sepuluh nih jadinya? Oke!” Agni melangkah mendekat ke arah Nova, “Yang lain, pergisana! Atau nggak kalian yang akan menjadi korban selanjutnya!”

Rio, Ozy, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia melangkah mundur, bersembunyi di balik rumah pohon besar.

Nova hanya sendiri melawan penyihir Cakka dan teman-temannya. Dalam kondisi yang lemah, Lintar tetap bisa melihat semua itu. Lintar berusaha berdiri dan bangkit lagi, namun tetap tak bisa. Sekali lagi ia yakin bisa bangkit berdiri, masih belum bisa. Karena keyakinannya sangat kuat, akhirnya setelah itu Lintar bisa berdiri dan melawan penyihir Cakka dan teman-temannya.

Lintar dan Nova menggabungkan kekuatan untuk melawan penyihir Cakka dan teman-temannya. Mereka saling memandang sebentar, lalu tersenyum dan mengucapkan kalimat, “Kekuatan cinta!”.

“Cak… bagaimana, ini? Mereka berdua memakai kekuatan cinta! Lama-lama tenagaku bisa hilang…” Agni terlihat pasrah.

“Benar, Agni! Badanku juga terasa menjadi lemas…” ujar Cakka, “Tapi kita nggak boleh menyerah menghancurkan kekuatan cinta mereka yang sangat kuat…”

Bunyi pedang terdengar. Darah mulai menetes dari tubuh Lintar dan Nova setelah mereka diserang oleh Debo dan Gabriel, yang dibantu dengan teman-teman lainnya. Walaupun di sekitar tubuh mereka terdapat bekas luka akibat diserang, namun Lintar dan Nova tetap menghabiskan seluruh kekuatan sihir yang dimiliki.

Di rumah pohon…

“Ka… kalian?” Nyopon, Rizky, Dea, Deva, Ray, dan Daud melihat Rio, Ozy, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia di rumah pohon yang sama.

“Bagaimana ceritanya kalian bisa tinggal di rumah pohon ini?” Rio, Ozy, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia bertanya.

“Begini. Lihatlah bangunan di sebelahsana! Rumah-rumah yang biasa kami tempati hancur setelah rubiks yang digunakan sebagai pertahanan negeri tersusun acak. Karena itulah kami semua tinggal di rumah pohon ini” Deva menunjuk ke arah bangunan di negeri rubiks.

“Mana teman kalian yang dua lagi?” Ray bingung melihat jumlah teman-teman barunya dari dunia manusia biasa tidak lengkap.

“Mereka berdua sedang bertarung melawan penyihir-penyihir jahat!” seru Rio, Ozy, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia.

“Maafkan kami karena selama mengembalikan kekuatan sihir, kami tidak mengetahui apapun yang terjadi di negeri ini…” Dea meminta maaf.

“Kami tidak tahu siapa penyihir itu.” ucap Daud.

“Apakah kita mau mencoba membantu Lintar dan Nova melawan penyihir jahat itu?” Rio, Ozy, dan Alvin  bertanya kepada teman-temannya.

“Memangnya sekarang mereka berdua berada dimana?” Rizky balik bertanya.

“Sekarang, mereka berdua berada di luar.” jawab Rio, Ozy, dan Alvin.

“Apakah tidak berbahaya jika kita keluar dari rumah pohon ini? Dengarlah, kilat masih terus menyambar. Bunyi pedang juga terus terdengar.” lirih Nyopon.

“Apapun keadaan di luarsana, kita harus tetap membantu teman supaya selamat dari bahaya yang mengancam teman kita itu.” Zevana tersenyum simpul.

“Betul!” yang lainnya juga menyetujui.

“Namamu memang Lintar, tapi kekuatanmu tak setajam halilintar dan pedang ini.” Debo dan Gabriel mendekatkan pedangnya ke arah Lintar.

“Petir itu artinya halilintar. Seperti namamu Lintar. Kekuatan petir itu sangat dahsyat, tapi kita yakin kekuatanmu pasti tak sedahsyat petir yang kita ciptakan.” Obiet dan Irsyad terlihat penuh amarah.

“Lihat saja… sebentar lagi kekuatanmu pasti melemah.” Cakka dan Agni tersenyum penuh kemenangan.

“Lintar mau dibu…” baru saja Nova mengucapkan satu kalimat, tiba-tiba Sivia dan Oik menutup rapat-rapat mulut Nova dengan tangan mereka. Lalu, Shilla dan Ify mengikatkan Nova dengan tali dari alat sihir Shilla pada sebuah pohon. Nova hanya pasrah melihat dirinya diikat dan dijaga ketat oleh Sivia dan Oik.

“A… apa itu?” Lintar melihat sebuah kristal yang terjatuh dari kantung salah satu penyihir jahat. Saat penyihir jahat sedang lemah, Lintar mengambil kristal yang terjatuh itu. Ternyata, kristal yang terjatuh yang ditemukan Lintar tadi adalah kristal ajaib berwarna biru. Kristal biru itu sebagai pertahanan tubuh penyihir jahat.

“Kristal warna biru millikku mana, ya? Perasaan tadi masih ada di kantung ini, deh?” Debo mencari-cari kristal biru miliknya di kantung rahasia.

“Itu, tuh! Diambil sama maling ‘Lintar’” Gabriel menunjuk ke arah Lintar yang sedang memegang sebuah kristal biru.

Lintar melempar kristal biru yang dipegangnya lalu berlari. Di saat berlari, ia melihat sebuah kertas melayang ke depannya.

“Baca ah kertas ini. Siapa tahu penting.” kata Lintar.

Lintar membaca isi kertas itu.

Aku merindukan kalian, sahabatku… Walaupun aku akan pergi jauh, jauh ke ujung dunia

(untuk sahabat yang selalu aku rindukan)

“Siapa ya yang menulis di kertas ini?” Lintar membalik-balikkan kertas untuk mengetahui siapa yang menulisnya, namun ternyata usahanya itu sia-sia.

Rio, Ozy, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia datang bersama anak-anak dari negeri rubiks, yaitu Nyopon, Rizky, Dea, Deva, Ray, dan Daud. Pertama, semua mencoba melepaskan Nova yang diikat menggunakan tali dan mencoba menjauhkan Sivia, Oik, Shilla, dan Ify dari tempat Nova diikat dengan tali. Akhirnya berhasil! Nova ikut bergabung bersama yang lainnya untuk menyelamatkan Lintar.

2 Komentar »

CerBung: Misteri Negeri Rubiks (bagian 3)

“Besar banget rubiksnya! Yakin nih warga negeri rubiks yang membuat rubiks ini dengan tangan sendiri?” Lintar, Rio, Ozy, Nova, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia kaget melihat rubiks besar berukuran 1000 x 1000 berada tepat di depan mereka.

“Bener kok. Kami juga ikut membantu.” Nyopon tersenyum melihat teman barunya dari dunia manusia biasa yang heran melihat rubiks besar di negerinya.

Ray telah menyulap tongkat miliknya menjadi banyak, “Cepat pegang tongkat ini! Kalau tidak, nanti kalian dianggap musuh oleh warga negeri kami!” seru Ray.

Lintar, Rio, Ozy, Nova, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia memegang masing-masing satu buah tongkat ajaib.

“Terus, kita harus melakukan apalagi?” Zevana kebingungan setelah menerima sebuah tongkat ajaib.

“Sihir diri kalian! Ucapkan ‘sim salabim adakadabra!’ sambil memutar tongkat itu di sekitar tubuh kalian.” perintah Deva.

“Sim salabim… adakadabra!” Lintar, Rio, Ozy, Nova, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia memutar tongkat milik masing-masing di sekitar tubuh.

Setelah disihir dengan tongkat, Nova, Keke, Zevana, dan Olivia terlihat memakai gaun ala anak negeri rubiks dan sebuah sayap. Sedangkan Lintar, Rio, Ozy, dan Alvin terlihat memakai baju kaos santai ala anak negeri rubiks.

“Makanlah permen rubiks ini untuk menambah kekuatan sihir.” Daud memberikan sejumlah permen kepada Lintar, Rio, Ozy, Nova,Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia.

“Permen itu kami sendiri yang membuatnya loh…” kata Rizky tanpa bermaksud sombong.

“Ini beneran permen rubiks?” Lintar melihat-lihat permen rubiks miliknya, “Bisa dimainin nggak, ya?” dan Lintar mencoba memutar-mutar permen rubiks itu.

“Huahaha… itukanpermen, Lintar! Masa permen rubiks bisa dimainkan seperti rubiks asli, sih? Ada-ada aja nih si Lintar…”Riogeleng-geleng kepalanya melihat tingkah Lintar yang mencoba memutar permen rubiks.

“Perasaaan di negara kita nggak ada permen rubiks deh…” Ozy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Adanya sih gantungan kunci berbentuk rubiks… Hahaha…” gurauAlvin.

“Huaaa… permennya lucu banget!” Nova dan Olivia berteriak.

“Kalau nanti kita pulang, kita boleh bungkusin permen rubiks yang lain,kan?” lanjut Keke dan Zevana.

“Iya… iya… kalau kalian mau pulang, nanti kita bungkusin permen rubiks yang banyak, deh! Tapi sekarang…” Dea mengambil nafas, “ Sekarang semuanya harus memakan permen rubiks yang ada di tangan masing-masing! Kalian kan mau menjalankan misi membetulkan susunan rubiks yang telah diacak oleh seseorang.” lanjutnya.

Lintar yang belum membuka bungkusan permen rubiksnya langsung bertanya, “Memangnya apa gunanya permen rubiks ini jika permen rubiks ini kita makan?”

“Permen itu telah kami sihir sebagai tambahan kekuatan sihir! Jadi, sekarang makanlah permen rubiks yang banyak agar kekuatan sihir kalian semua bertambah. Sisa kekuatan sihir kita nyaris habis, karena itulah kita membutuhkan bantuan kepada kalian untuk menyusun rubiks besar ini kembali. Karena menyusun rubiks besar ini membutuhkan kekuatan sihir…” Rizky, Deva, dan Ray menjelaskan sambil memegang rubiks yang ukurannya jelas lebih besar dari tubuh mereka.

Lintar mulai memakan permen rubiks yang diberikan oleh Daud. Sementara itu, permen rubiks Rio, Ozy, Nova,Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia hampir habis.

Semua permen rubiks yang diberikan oleh Daud telah habis.

“Saatnya kami akan istirahat dulu untuk mengembalikan kekuatan sihir kami.” Nyopon, Dea, Deva, dan Ray melangkah menjauh.

“Semuanya kupercayakan kepada kalian berdelapan untuk mengembalikan keadaan negeri ini.” lanjut Rizky.

Nyopon, Rizky, Dea, Deva, dan Ray pergi menghilang dari pandangan Lintar, Rio, Ozy, Nova, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia. Enam anak dari negeri rubiks itu beristirahat di rumah masing-masing untuk mengembalikan kekuatan sihir mereka.

“Bagaimana ini? Apakah kita bisa mengembalikan keadaan negeri mereka?” Lintar bertanya kepada teman-temannya.

Tinggalkan komentar »

CerBung: Misteri Negeri Rubiks (bagian 2)

ini lanjutannya…
tetap baca & comment ya…

————————————————————————————————————————————————

tokoh utama:

Lintar
Rio
Ozy
Nova
Alvin
Keke
Zevana
Olivia
Nyopon
Rizky
Dea
Deva
Ray
Daud
Cakka
Obiet
Irsyad
Gabriel
Debo
Agni
Sivia
Shilla
Oik
Ify
Patton

————————————————————————————————————————————————

Ketika enam anak dari negeri rubiks sampai di dunia manusia biasa, mereka bertemu dengan delapan orang anak yang sedang bermain rubiks di teras rumahnya Rio.

Lintar, Rio, Ozy, Nova, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia kaget melihat enam anak dari negeri rubiks tiba-tiba muncul, “Kalian siapa?”
“Sebelumnya, maaf karena kita telah mengganggu kalian…” Rizky mewakili teman-temannya, “Kami disini sebenarnya membutuhkan bantuan kalian…” kata Rizky dan teman-temannya (Nyopon, Dea, Deva, Ray, dan Daud) kompak.
“Ka… kalian membutuhkan bantuan kami?” Lintar, Rio, Ozy, Nova, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia bertanya.
“Iya.” kata Dea.
“Kalian pintar main rubiks, kan?” Deva bertanya.
Lintar menjawab, “Nggak pintar-pintar banget sih mainnya. Ya… kita paling banyak bisa menyelesaikan dua bagian rubiks…”
Rio pun balik bertanya kepada enam anak dari negeri rubiks, “Memangnya ada apa? Kalian membutuhkan bantuan kita untuk menyelesaikan sebuah rubiks?”
“Betul… Kami membutuhkan bantuan kalian menyelesaikan sebuah rubiks. Tapi…” ujar Ray.
“Tapi apa?” spontan Lintar, Rio, Ozy, Nova, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia bertanya lagi.
“Tapi rubiks yang harus kalian selesaikan bukanlah sebuah rubiks biasa. Di negeri rubiks yang kami tempati, seluruh penduduk negeri rubiks membuat sebuah rubiks besar, lalu rubiks besar itu kami sihir untuk pertahanan negeri. Rubiks itu tidak boleh diacak oleh siapapun. Namun, satu bulan yang lalu, rubiks besar yang kami buat telah diacak oleh seseorang. Kami butuh bantuan manusia biasa yang pintar bermain rubiks untuk menambah kekuatan sihir kami agar susunan rubiks di negeri kami bisa kembali.” Nyopon menjelaskan semuanya.
“Kami lihat kalian pintar bermain rubiks. Karena itulah kami meminta bantuan kepada kalian.” kata Daud.

Lintar, Rio, Ozy, Nova, Alvin, Keke, Zevana, dan Olivia terdiam sejenak.
“Bagaimana, teman-teman? Apakah kita mau menolong mereka?” Olivia bertanya kepada teman-temannya.
“Aku sih mau aja membantu mereka. Tapi kita kan tidak tahu dimana letak negeri mereka.” Nova berkata.
“Tenang. Kami akan membawa kalian ke negeri kami.” Rizky tersenyum tipis.
Alvin terlihat bingung, “Bagaimana caranya kalian membawa kami ke negeri rubiks?”
“Kami kan punya sisa kekuatan sihir untuk pergi ke negeri rubiks.” jawab Dea.

“Sekarang kita saling pegangan tangan, ya!” perintah Rizky.
“Baik!” seru yang lain serempak.
“Pejamkan mata kalian!” perintah Dea.
Semua memejamkan mata mereka.
“Satu… dua… ti.. ga!” seru semuanya bersama-sama.

Akhirnya mereka semua sampai di negeri rubiks dan sekarang semuanya tepat berada di depan rubiks besar yang telah tersusun acak.

——————————————————————————————————————————————-

4 Komentar »

CerBung: Misteri Negeri Rubiks (bagian 1)

baca ceritaku ini dan jangan lupa comment, ya!

——————————————————————————————————————————————-

tokoh utama:

Lintar
Rio
Ozy
Nova
Alvin
Keke
Zevana
Olivia
Nyopon
Rizky
Dea
Deva
Ray
Daud
Cakka
Obiet
Irsyad
Gabriel
Debo
Agni
Sivia
Shilla
Oik
Ify
Patton

——————————————————————————————————————————————-

Negeri Rubiks –di setiap penjuru negeri terdapat berbagai macam bentuk dan ukuran rubiks. Penduduk negeri rubiks adalah manusia biasa, namun perbedaan mereka dengan manusia biasa adalah mereka bisa membuat rubiks dengan tangan sendiri.

Selama beberapa bulan, akhirnya penduduk negeri rubiks berhasil membuat sebuah rubiks besar berukuran 1000 x 1000. Namun, rubiks besar yang dibuat itu bukanlah rubiks biasa. Rubiks itu telah disihir menjadi pertahanan negeri oleh beberapa orang anak yang mempunyai kekuatan sihir, yaitu Nyopon, Rizky, Dea, Deva, Ray, dan Daud. Semua penduduk harus menjaga rubiks besar itu agar tidak diacak oleh siapapun. Jika rubiks besar itu diacak, negeri rubiks akan berantakan dan satu tahun kemudian negeri rubis akan menghilang.

Pada suatu hari, saat penduduk negeri rubiks sedang tertidur, seorang penyihir jahat bernama Cakka terbang ke negeri rubiks. Sampai di negeri rubiks, Cakka melihat rubiks besar yang dibuat oleh penduduk negeri rubiks. Sejak mengetahui negeri rubiks akan membuat sebuah rubiks besar untuk pertahanan negeri rubiks, Cakka dan teman-temannya berniat mengacak rubiks besar itu supaya keadaan negeri rubiks menjadi kacau. Namun hanya penyihir Cakka yang berani pergi ke negeri rubiks.

Cakka pun mengacak rubiks besar yang dibuat oleh penduduk negeri rubiks dengan cara menyihirnya. Akhirnya, negeri rubiks pun menjadi kacau. Untungnya, Nyopon, Rizky, Dea, Deva, Ray, dan Daud tidak terpengaruh dengan sihir Cakka. Karena kekuatan sihir mereka berenam tidak cukup untuk mengembalikan susunan rubiks besar yang dibuat, akhirnya mereka pergi ke dunia manusia biasa, mencari manusia biasa yang pintar bermain rubiks untuk meminta bantuan mengembalikan susunan rubiks di negeri mereka.

——————————————————————————————————————————————-

Kritik dan saran sangat aku butuhkan supaya ceritaku yang selanjutnya lebih bagus lagi.

4 Komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.